Editorial

Kopi Instan Racikan Si Tua Ralf Rangnick

KABAR KALIMANTAN 1 – Bisa apa si tua Ralf Rangnick yang resmi menerima jabatan sebagai manajer interim Manchester United? Kira-kira begitulah sentilan legenda Liverpool, Graeme Souness, terkait keputusan MU menunjuk Rangnick sebagai manajer sementara, pengganti Ole Gunnar Solksjaer.

Jangankan Souness yang berdiri sebagai rival United, bahkan legenda MU sendiri, Garry Neville, juga melontarkan ketidak-yakinan terhadap kinerja Ralf. Ia malah sudah mengendus pesan Ralf kepada Michael Carrick selaku caretaker MU, untuk membangku-cadangkan Cristiano Ronaldo kala dijamu Chelsea.

Di mata Garry, CR7 terlalu bagus untuk diparkir, sekalipun usianya 37 tahun. Soal stamina, bisa jadi berbeda dengan 10 tahun lalu. Tapi penempatan posisi, insting mencetak gol, dan impact kehadirannya di lapangan, tak ternilai.

Memang tidak sebangun, tapi peran sebagai “pemain pembakar semangat” CR7 saat ini menurut saya identik dengan kapten brutal mu asal Irlandia, Roy Keane, di era kejayaan United. CR7 atau Roy masuk ke lapangan saja, dua imbas langsung dirasakan. Spirit kawan langsung tersulut, sebaliknya rasa tenang di kubu lawan sedikit menciut.

Kabar Buruk

Benarkah Ronaldo akan ditepikan Ralf yang dikenal sebagai pengusung pola permainan gegenpressing yang ekstra menekan? Pola itu sukses diterapkan Ralf saat membangun dua klub antah-berantah, Hoffenheim dan RB Leipzig, menjadi kekuatan mengerikan di Bundesliga, Jerman.

Pola itu yang akhirnya diakui telah diadopsi pelatih-pelatih top Eropa, seperti Jurgen Klopp, Thomas Tuchel, dan Julian Nagelsmann. Ironisnya, Klopp memakai pola itu saat Liverpool membantai Manchester United di Old Trafford, 0-5.

“Kabar buruk, seorang pelatih hebat datang ke Liga Inggris, ke Manchester United. Ralf jelas merupakan manajer yang sangat berpengalaman,” kata Klopp. “Manchester United akan lebih terorganisir. Kita harus menyadari itu, dan ini jelas bukan kabar baik bagi tim-tim di Liga Inggris.”

Permainan menekan sepanjang pertandingan, jelas memerlukan stamina ekstra. Saat menguasai bola, pemain akan membebaskan diri, mencari posisi, menciptakan peluang dan gol. Ketika bola direbut lawan, tiap pemain binaan Ralf wajib melakukan pressure. Kalau perlu 2-3 pemain mengeroyok lawan sampai bola berhasil direbut.

Apakah CR7 akan menjadi salah satu pemain yang kompatibel dengan sistem itu? Jika melihat naluri, bisa jadi. Tapi menekan selama 90 menit? Saya kurang yakin. Namun Ralf bisa mengaca pada kasus Ronaldo Nazario de Lima alias Sang Phenomenon asal Brasil.

Ia pernah diteriaki sang manajer, “Hey, Ronaldo. Lari dan jemput bola. Tekan lawan yang ada di dekatmu, bukan hanya menunggu.” Jawaban Ronaldo santai saja. “Tugas saya mencetak gol, bukan berlari.” Dalam laga itu, benar, Ronaldo berkepala plontos itu mencetak gol.

Tentu saja karakter Ronaldo Brasil dengan Ronaldo Portugal sangat berbeda. Jika Sang Phenomenon sedikit pendiam di lapangan, maka CR7 sangat ekspresif. Publik bahkan kerap melihat di layar kaca, bahkan saat sudah diganti di 15 menit akhir babak kedua, Ronaldo masih antusias meneriaki para pemain di lapangan.

Bek legendaries MU, Rio Ferdinand, bahkan bilang, jika berposisi sebagai pelatih, dia akan mengusir Ronaldo dari bangku cadangan. Tapi manajer Portugal kala itu, santai saja. Baginya, CR7 sedang membakar spirit pemain yang staminanya mulai meredup.

Ralf dikenal sebagai pria Jerman yang dingin dan keras. Sikap tanpa kompromi, ogah diintervensi, jadi salah satu ciri khas. Namun Ralf juga dikenal sebagai sosok objektif. Melihat Timo Werner yang berlatih ekstra keras, ia tak segan menjadikannya sebagai striker utama Leipzig, sebelum ditebus Chelsea dengan mahar 47,5 juta pound.

Kita ingat komentar Carlos Tevez saat setim dengan CR7. Tevez datang ke tempat latihan jam 6.30, ternyata Ronaldo sudah ada. Esoknya, Tevez datang jam 6 tepat. Ronaldo juga sudah ada, berlatih sendiri. Akhirnya Tevez mencoba datang jam 5.30, untuk pertama dan terakhir kali dalam hidupnya. “Gila! Dia pun sudah ada, meski dengan wajah tampak mengantuk,” kata Tevez.

Itulah yang disebut etos kerja. Ketika Allah tidak memberimu kelebihan bakat berlimpah seperti Leonel Messi, maka jangan menyerah. Sepotong bakat dan sekumpulan kerja keras, bisa menjadikanmu pemain istimewa. Messi memang peraih 7 trofi Ballon d’Or. Tapi Ronaldo (yang “hanya” meraih 5 trofi Ballon d’Or), unggul di banyak sektor lain.

Ia pria pemecah rekor gol di hampir semua ajang, bahkan dijuluki Mr Champions League, berkat rekor-rekor CR7 di liga para juara itu, sulit dikejar pemain lain. Sialnya, saat pemain lain berancang-ancang pensiun di usia 33-35 tahun, Ronaldo cuma bilang, “Saya belum berpikir apapun tentang gantung sepatu.”

Aset Istimewa

Nah, apakah Ralf rela bersikap hipokrit tentang Ronaldo atas nama skema? Atau dia bersedia terbuka pada fakta, bahwa di timnya ada aset istimewa, yang layak mendapat perlakuan istimewa juga? Pertanyaan itu akan kita cari jawabannya tatkala Ralf langsung in-charge dalam tim.

Yang sudah terdengar adalah penilaian miring Souness seperti dikutip TalkSport. Ralf bukanlah manajer yang berpengalaman di EPL, liga terkeras di dunia. Dia bukan pula manajer yang dibutuhkan klub sebesar United, yang sedang memerlukan prestasi instan. Ralf sudah terlalu tua untuk Liga Inggris dan sebaiknya menikmati masa pensiun. Souness bahkan berkelakar, Ralf hanya datang demi uang.

Jumlah gajinya di MU memang naik 2 kali lipat dari yang ia terima di Lokomotiv Moskow, selaku Manajer Sport dan Pengembangan Klub, atau semasa melatih Leipzig. Di Old Trafford, ia bahkan ditawari kontrak sebagai konsultan selama 2 tahun, jika tugas sebagai manajer interim selama 6 bulan telah usai. Posisi manajer akan diisi tukang racik strategi Paris Saint-Germain, Mauricio Pochettino.

Tugas utama Ralf saat ini sudah jelas di depan mata. Dia wajib memperbaiki organisasi pertahanan yang rapuh, meski diisi pemain-pemain yang ditebus dengan harga mahal seperti Harry Maguire, Victor Lindelof, Raphael Varane, dan Aaron Wan Bissaka. Penguasaan pemainan yang buruk, perlu dirombak segera. Terutama di sektor tengah. Dalam laga terakhir di Stamford Bridge, ball possiesion Chelsea vs MU bahkan 66-34 persen!

Di lini depan, Ralf tak terlalu repot. Banyak opsi yang dia miliki, mulai dari Ronaldo, Marcus Rashford, Mason Greenwood, Edinson Cavani, Anthony Martial bahkan Jadon Sancho, bisa didorong jadi pemburu gol. Ralf hanya perlu memilih dan mengoptimalkan mereka.

Setelah mengolah tiga “bahan” di atas, Ralf tinggal menghadirkan kembali atmosfir Old Trafford sebagai neraka bagi klub-klub tamu. Dengan dukungan 75 ribu lebih maniak United, plus kualitas pemain kelas premium, mestinya Ralf mampu meracik tim yang kempetitif. Sepakbola memang bukan kopi, yang bisa diracik secara instan.

Di sana ada permainan, melibatkan perasaan. Ada puluhan pemain, juga jutaan fan. Semua menanti racikan si tua asal Jerman. Apakah Ralf memang “barista” jempolan di atas lapangan?

 

JADWAL LIGA INGGRIS

Rabu, 1 Desemer 2021

02.30 WIB – Newcastle United Vs Norwich City
03.15 WIB – Leeds United Vs Crystal Palace

Kamis, 2 Desember 2021

02.30 WIB – Southampton Vs Leicester City
02.30 WIB – Watford Vs Chelsea
02.30 WIB – West Ham United Vs Brighton & Hove Albion
02.30 WIB – Wolverhampton Vs Burnley
03.15 WIB – Aston Villa Vs Manchester City
03.15 WIB – Everton Vs Liverpool

Jumat, 3 Desember 2021

02.30 WIB – Tottenham Hotspur Vs Brentford
03.15 WIB – Manchester United Vs Arsenal

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

To Top