KABAR KALIMANTAN1, Sampit – Kabupaten Kotawaringin Timur (Kotim), Kalimantan Tengah (Kalteng) mengoptimalkan keberadaan enam pos lapangan dalam mendukung upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan (karhutla) 2024.
“Berdasarkan kajian rawan risiko bencana karhutla, ada enam kecamatan rawan dan kami mendapat bantuan pembiayaan dari BPB-PK provinsi untuk didistribusikan ke enam kecamatan tersebut,” kata Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kotim Multazam di Sampit, Jumat (12/7).
Ia mengatakan BPB-PK Kalteng mendirikan 35 pos lapangan yang berlaku selama 150 hari di tujuh kabupaten dan satu kota, khususnya pada wilayah atau kecamatan prioritas rawan karhutla.
Tugas dari pos lapangan, antara lain melaksanakan patroli pencegahan karhutla, sosialisasi mengenai karhutla dan melaksanakan pemadaman jika terjadi karhutla.
Khusus untuk wilayah Kotim, ada enam kecamatan yang berdasarkan kajian rawan risiko perlu untuk dibentuk pos lapangan pengendalian karhutla dan sebagian besar berada di wilayah selatan, yakni Kecamatan Teluk Sampit, Mentaya Hilir Selatan, Mentaya Hilir Utara, Pulau Hanaut, Seranau, dan Baamang.
“Pada enam kecamatan ini kami berjaga-jaga dibantu dengan BPB-PK Provinsi dengan pola penanganan yang melibatkan masyarakat, kemudian TNI dan Polri juga terlibat di dalamnya,” ujarnya.
Melalui pos lapangan pengendalian karhutla ini, pemerintah ingin menunjukkan pentingnya peran masyarakat dalam penanggulangan karhutla dengan pembentukan masyarakat peduli api (MPA).
MPA bersama TNI dan Polri ini turut andil dalam mitigasi, pencegahan , penanganan sampai pemulihan bencana karhutla. Mereka memiliki waktu 120 hari untuk melakukan persiapan.
Ia menambahkan keenam kecamatan itu sesuai dengan pemetaan daerah rawan karhutla yang dilakukan BPBD Kotim pada 2023, dan berlaku selama lima tahun sejak ditetapkan. Selain itu, Kecamatan Mentawa Baru Ketapang tahun lalu juga mendapat bantuan pos lapangan dari provinsi.
Keenam kecamatan ini dinilai rawan karhutla, karena memiliki luasan rawa dan lahan gambut yang cukup luas dan masih banyak lahan tidak produktif di kecamatan tersebut.
Lahan tidak produktif ini biasanya ditumbuhi semak belukar yang menjadi makanan api ketika terjadi karhutla. Ditambah pemilik lahan yang tidak produktif ini cenderung abai ketika lahannya terbakar.
Berdasarkan pengalaman akses jalan menuju titik api di sejumlah kecamatan tersebut masih sulit, keterbatasan sumber daya manusia hingga kemungkinan terjadinya proses pembakaran tanpa diketahui oleh satgas lapangan banyak terjadi di wilayah tersebut pada 2023.
“Pengalaman tahun lalu kami cukup kewalahan untuk menanganinya, sehingga dengan aktivasi pos lapangan ini diharapkan pengendalian karhutla bisa lebih baik,” kata Multazam.
Sumber: ANTARA