POLITIK

Ide PPP Pasangkan Prabowo dengan Tokoh Religius, Dikritisi

KABAR KALIMANTAN 1, Jakarta – Analisis PPP bahwa Prabowo Subianto akan memenangi Pilpres 2024 jika dipasangkan dengan tokoh dari kalangan religius, dikritisi mantan pendukungnya sendiri.

“Tokoh religius yang bagaimana? Ustad, kiai, pendeta, atau pemilik sekolah agama seperti pesantren? Rakyat sudah kenyang dikibulin,” komentar Eddi Syam, alumni UI yang mantan pendukung PS 02 era Pilpres 2019.

Masih terngiang di telinganya ucapan Ustad Abdul Somad (UAS) saat bertemu Prabowo. “Jangan-jangan saya tertipu oleh Pak Prabowo,” komentar Eddi. “Kala itu UAS, juga Ustad Adi Hidayat, Ustad Arifin Ilham (Alm), bahkan Habib Rizieq Shihab, menitipkan spirit kejujuran pada Prabowo, jika kelak jadi presiden.”

Nyatanya semua sadar, pasca kalah di Pilpres kontroversial, Prabowo justru membelot menjadi pembantu Joko Widodo.

Menurut Eddi, Prabowo tak mempedulikan para pendukung, yang tulus membelanya. Pesan ulama pun tak melekat. Bahkan janji menjemput Habib Rizieq sepulang dari Arab Saudi, dia ingkari.

“Dan sekarang kita juga sudah punya pengalaman terburuk soal pasangan ulama. Terutama, ulama yang gila jabatan dan kesenangan dunia. Di pemerintahan, Wapres ulama cuma diam, bahkan saat ada hal-hal krusial terkait kehidupan beragama,” imbuh Eddi.

Pola Sama

Sebelumnya, Wakil Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Arsul Sani, melontarkan pandangan politiknya.

“Prabowo akan berhasil menjadi Presiden ke-8 RI bila dipasangkan dengan tokoh dari kalangan religius. Ini kalau polanya masih sama, yakni capresnya dari kelompok nasionalis, dan cawapresnya dari sosok representasi kalangan agamis atau religius,” kata Asrul Sani.

Arsul menjelaskan, itu sudah tergambar sejak pemerintahan Presiden ke-4 RI Abdurrachman Wahid atau Gus Dur dan Wakil Presiden Megawati Soekarnoputri.

Kemudian, pola tersebut berlanjut pada masa pemerintahan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri dan Wakil Presiden Hamzah Haz.

Juga era Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dan Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), serta Presiden ke-7 Joko Widodo (Jokowi) dan Wakil Presiden JK, hingga Presiden ke-8 Jokowi dan Wakil Presiden Ma’ruf Amin.

Atas pola tersebut, Arsul melihat peluang Prabowo Subianto lebih besar memenangkan Pilpres 2024 jika berduet dengan cawapres dari kalangan religius.

Partai Gerindra melalui Sekretaris Jenderal, Ahmad Muzani, menyatakan jika sang Ketum akan menerima mandat para kader untuk maju lagi di Pemilihan Presiden 2024. Menurutnya, masih ada cita-cita partai yang belum terwujud.

Muzani menuturkan, pada 2019, perolehan suara Prabowo di Sulawesi Selatan mencapai 57 persen. Ia pun meminta kepada seluruh pengurus partai di sana dapat meraih target kemenangan hingga 65 persen di Pilpres 2024.

Tetap 50-50

Meski elektabilitasnya tertinggi, pengamat politik dari Universitas Al Azhar Indonesia, Ujang Komarudin, menilai kans Prabowo memenangi Pilpres 2024 masih tetap 50-50.

Ujang mengatakan, elektabilitas Prabowo yang selalu berada di posisi teratas saat ini belum menjamin.

“Kans Prabowo masih fifty-fifty, bisa menang dan bisa juga tumbang. Elektabilitas Prabowo saat ini tertinggi, tapi masih di bawah angka 30 persen. Itu sama sekali tak mencerminkan kemenangan di Pilpres 2024. Bisa saja nanti elektabilitas Prabowo stagnan, dan akan disalip oleh capres lain,” kata Ujang, Senin (11/10/2021).

Menurut Ujang, kans Prabowo untuk menang pada Pilpres 2024 baru aman jika elektabilitasnya mencapai angka 70 persen.

Ujang justru menilai Prabowo memiliki pekerjaan besar, yakni menjaga hubungan baik dengan para pemilihnya pada Pilpres 2014 dan 2019, yang kecewa karena Prabowo bergabung ke pemerintahan Joko Widodo.

“Kelihatannya posisi Prabowo selaku Menteri Pertahanan, itu untuk memperkuat posisi di Pilpres 2024,” ujar Ujang.

Sejauh ini sosok yang dapat menjadi pesain Prabowo adalah Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan, serta Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo. Keduanya belum memiliki partai pengusung.

Berdasarkan hasil sejumlah survei, elektabilitas Anies dan Ganjar selalu menempel Prabowo yang berada di urutan teratas. Persentase keduanya naik terus, Prabowo menurun.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top