Metropolitan

Penyebab Akses Ditembok, Dibilang Nggak Kawin Jadi Galak

KABARKALIMANTAN1, Jakarta – Seperti sudah diduga, penyebab Widya (46) membuat tembok yang menutup akses tetangganya, Mursideh (58) di Pulogadung, Jakarta Timur (Jaktim), ternyata mulut. Kasus ini viral di media, karena banyak yang iba pada korban.

Apalagi di layar kaca Mursideh sempat mendramatisasi dengan bilang, “Keluarga kami susah kalau mau lewat, bahkan yang tinggal di lantai 2, harus melangkah pagar atas sambil membawa bayi. Orangtua juga sudah berumur.”

Ia mengakui, telah langkah mediasi sudah 6 kali dilakukan dengan melibatkan RT, RW, juga polisi. Tapi hingga naskah ini diturunkan, belum ada titik temu.

Setelah sempat menolak diwawancarai, Widya akhirnya menjelaskan alasannya melakukan penembokan tersebut. “Itu akumulasi kekesalan. Ada intimidasi secara psikis dan fisik, terutama untuk mama saya, yang sehari-harinya sendiri di rumah,” kata Widya, Rabu (3/8/2022).

Tembok di depan rumah Mursideh ada di Jl Gading Raya, Gang 8, RT 11 RW 10, Kelurahan Pisangan Timur, Kecamatan Pulogadung, Jakarta Timur. Widya dan keluarga merasa kecewa atas sikap keluarga Mursideh.

“Kalau yang psikis, dari ucapan. Kalau fisik, sekali, cuma pada properti. Tidak ke fisik atau badan. Penghinaan terutama kepada pribadi saya,” ujar Widya, lalu menirukan hinaan Mursideh yang membuatnya sakit hati. “Dia bilang, gitu deh kalau nggak kawin, galak.”

Widya (kiri) dan Mursideh, dipicu hinaan.

Alasan lainnya, parkir sepeda motor yang tidak beraturan yang dilakukan anak Mursideh, yaitu Firmansyah (34) di jalanan tersebut. Parkir motor disitu mengganggu akses jalan menuju rumah Widya, pemilik tanah. Saat ada yang mau mengantar barang ke rumahnya, selalu terganggu.

Widya memiliki legalitas kepemilikan lahan sejak Desember 1978. “Beli sudah termasuk surat, dan sudah berbentuk sertifikat hak guna, kemudian hak milik pada tahun 1994,” ucapnya.

Ia telah meminta petugas Badan Pertanahan Nasional (BPN) mengukur jalan tersebut, disaksikan keluarga Mursideh. “Mereka hadir menyaksikan, tapi tak mengakui dan tak mau menandatangani BAP,” tuturnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan pihaknya telah menyurati keluarga Mursideh dan suaminya, Asep, saat penembokan hendak dilakukan. Menurutnya, keluarga Mursideh tidak menyatakan keberatan ketika penembokan itu dilakukan pada Jumat (29/7).

“Suratnya ditujukan untuk Pak Lurah, Pak RT, Pak RW, dan ditembuskan ke keluarga Pak Asep dan LMK atau lembaga musyawarah kelurahan,” lanjut Widya. “Ketika pelaksanaan, dia ada di sini. Jadi tidak sekonyong-konyong. Material dan tukang ada di sini. Kami lalu-lalang, tak ada pernyataan keberatan.”

Minta Maaf

“Ya kalau untuk baru-baru ini ya parkir motor itu. Laporan RT, RW, lurah, ya motor itu,” kata Firmansyah. “Kita sudah minta maaf kemarin. Kalau ada kesalahpahaman, barangkali dari ucapan, minta maaf,” imbuh Mursideh.

Ia berharap tembok dibongkar, dibuka seperti biasa dan mulai membuka lembaran baru. “Mestinya Mursideh ngomongnya jangan merasa benar terus. Minta maaf, tapi sambil merasa benar. Ya susah,” ujar tetangga yang tak mau disebut namanya.

Kasus serupa juga terjadi saat rumah keluarga seorang nenek yang terisolasi karena tembok tinggi. Setelah diusut, ternyata sang nenek rajin menggunjing keluarga penembok, bahkan menghina mertuanya yang sudah meninggal.

Inilah esensi hidup bertetangga, saling menghormati. Ucapan bisa dimaafkan, tapi bekasnya susah dihilangkan. Di manapun sama, baik di desa maupun kota metropolitan.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top