KABARKALIMANTAN1, Palangka Raya – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan pelaksanaan Bank Sampah yang berjalan di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah (Kalteng), dapat menjadi program inklusi keuangan yang inovatif.
“Saat ini telah terbentuk sebanyak dua bank sampah dengan total sebanyak 601 nasabah sejak awal pendirian tahun 2020 hingga 2025,” kata Kepala OJK Kalimantan Tengah Primandanu Febriyan Aziz saat dihubungi dari Palangka Raya, Selasa (3/3/2026).
Bank Sampah tersebut merupakan program inklusi keuangan yang pertama kalinya terbentuk di Kalimantan Tengah, dengan memanfaatkan limbah menjadi tabungan emas.
“Melalui Program Bank Sampah ini juga kami harap dapat mengurangi sampah di Kota Palangka Raya,” ujar dia.
Program Bank Sampah Palangka Raya merupakan inisiasi dari Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Palangka Raya bersama pihak terkait lainnya.
Sekda Palangka Raya Arbert Tombak mengatakan kolaborasi program pengelolaan sampah dengan layanan keuangan melalui integrasi bank sampah dan tabungan emas tersebut menjadi upaya mendorong pelestarian lingkungan sekaligus memperluas inklusi keuangan masyarakat.
“Program ini memberikan kesempatan kepada para penggiat sampah, pemulung serta pengelola bank sampah menabung hasil pengelolaan sampah dalam bentuk tabungan emas yang aman dan berkelanjutan,” ujar dia.
Melalui program itu, maka hasil pengelolaan sampah tidak hanya memberikan manfaat ekonomi jangka pendek, tetapi juga menjadi instrumen tabungan jangka panjang.
Ia menjelaskan, selain mendorong pengurangan volume sampah yang berakhir di tempat pembuangan akhir, program itu juga menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran masyarakat terhadap pengelolaan lingkungan berbasis partisipasi warga.
Untuk memperkuat manfaat ekonomi, Arbert mengatakan Pemkot Palangka Raya mendorong keterlibatan perangkat daerah terkait agar dapat memberikan subsidi terhadap setiap kilogram sampah yang disetorkan melalui bank sampah.
Sumber : ANTARA



