KABARKALIMANTAN1, Banjarmasin – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalimantan Selatan (Kalsel) mencatat jumlah investor saham di daerah itu hingga saat ini telah mencapai 497.131 Single Investor Identification (SID), mencerminkan meningkatnya partisipasi masyarakat dalam investasi pasar modal.
Kepala OJK Kalsel Agus Maiyo di Banjarmasin, Minggu (15/3/2026), mengatakan pertumbuhan jumlah investor saham tersebut sejalan dengan peningkatan aktivitas transaksi di pasar modal daerah.
“Nilai transaksi saham di Kalimantan Selatan sepanjang 2025 tercatat mencapai Rp3,62 triliun,” ucapnya.
Menurut dia, meningkatnya jumlah investor menunjukkan minat masyarakat terhadap instrumen investasi semakin berkembang seiring dengan berbagai program literasi keuangan yang dilakukan OJK bersama pemangku kepentingan.
“Selain saham, instrumen investasi reksa dana juga menunjukkan perkembangan positif. Hingga akhir 2025, nilai penjualan reksa dana di Kalimantan Selatan tercatat mencapai Rp715 miliar dengan jumlah investor mencapai 995.860 SID,” katanya.
Pada sektor industri keuangan non-bank, Agus menyebut posisi Desember 2025 menunjukkan piutang pembiayaan perusahaan pembiayaan sebesar Rp11,89 triliun atau mengalami kontraksi 2,91 persen secara tahunan (year on year/yoy) dengan rasio Non Performing Financing (NPF) sebesar 1,94 persen.
Selain itu, penyaluran pembiayaan modal ventura juga tercatat tumbuh 0,08 persen (yoy) dengan nilai pembiayaan mencapai Rp97 miliar. Kemudian aset bersih dana pensiun tumbuh 10,12 persen (yoy) menjadi Rp377 miliar.
Pada sektor pinjaman daring, outstanding pembiayaan pada Agustus 2025 meningkat signifikan sebesar 31,13 persen (yoy) menjadi Rp1,026 triliun dengan tingkat risiko kredit agregat atau TWP90 sebesar 2,26 persen.
Sementara itu, industri pergadaian di Kalimantan Selatan juga mencatat pertumbuhan signifikan dengan nilai pembiayaan mencapai Rp912 miliar pada Mei 2025 atau tumbuh 61,59 persen secara tahunan.
Selain menjaga stabilitas sektor jasa keuangan, OJK Kalsel juga terus meningkatkan literasi keuangan masyarakat.
Sejak Januari hingga Februari 2026, OJK telah melaksanakan 11 kegiatan edukasi keuangan yang diikuti 1.063 peserta dengan materi pengenalan OJK, produk lembaga jasa keuangan, serta kewaspadaan terhadap aktivitas keuangan ilegal.
Agus menyampaikan pada layanan Sistem Layanan Informasi Keuangan (SLIK), tercatat sebanyak 3.489 permintaan layanan telah diproses oleh OJK sepanjang Januari hingga Februari 2026, dengan 66,3 persen di antaranya merupakan layanan walk-in.
Dari sisi perlindungan konsumen, OJK Kalsel menerima 177 pengaduan melalui Aplikasi Portal Perlindungan Konsumen (APPK).
Pengaduan terbanyak berasal dari sektor fintech peer-to-peer lending sebesar 41,24 persen, disusul bank umum 28,81 persen, dan perusahaan pembiayaan 25,99 persen.
Melalui Tim Percepatan Akses Keuangan Daerah (TPAKD), OJK juga terus memperluas akses keuangan masyarakat melalui berbagai program strategis pada 2026, antara lain Kredit/Pembiayaan Melawan Rentenir, Satu Rekening Satu Pelajar (KEJAR), pengembangan ekosistem keuangan inklusif di wilayah perdesaan, ekosistem bank sampah, serta product/business matching.
“OJK Kalsel terus memperkuat literasi dan inklusi keuangan masyarakat serta menjaga stabilitas sektor jasa keuangan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi daerah,” ujar Agus.
Sumber : ANTARA



