Editorial

Menanti Sekuel My Dinh “The Killing Fields” Part 2

KABARKALIMANTAN1, Jakarta – The Killing Fields adalah sebuah film drama perang 1984, mengupas kekejian rezim Khmer Merah di Kamboja. Isinya berdasar pengalaman 2 jurnalis: Dith Pran (Kamboja) dan Sydney Schanberg (AS).

Saya pernah melakukan tugas jurnalistik ke Kamboja, lokasi tragedi. Tapi liputannya sepak bola, saat Rochi Putiray dkk membantai tuan rumah 10-1. Sempat mampir ke Museum Genosida Tuol Sleng di Phnom Penh. Di sini tersimpan sejarah genosida rezim komunis Khmer Merah (1975-1979) pimpinan Pol Pot.

Korban rezim Khmer Rouge ini mencapai 2 juta orang. Ribuan tengkorak retak, pecah, atau lubang karena peluru, disusun dalam beberapa shaf. Hati tergetar melihat pemandangan mengerikan itu.

Tapi the real killing fields sebenarnya di Vietnam. Di sanalah ladang pembantaian lebih menggetarkan. Perang antara rezim Vietcong di Vietnam Utara (pro Uni Soviet), kontra Vietnam Selatan (pro AS), menelan korban lebih fantastis: 3 juta jiwa!

AS ikut campur karena takut efek domino. Jika Vietcong menang, negara-negara tetangga di Asia Tenggara berpotensi mengikuti jejak ideologi komunis. Pecahlah Perang Vietnam atau Perang Indocina II. Meskipun AS unggul persenjataan, perang dimenangi Vietcong.

Tapi di sekuel Film Rambo 1-5 (1982-2019), pemenangnya AS. Bolehlah tertawa sambil guling-guling. Saya awalnya tak percaya, mana bisa Vietcong menang? Tapi setelah beberapa kali bertugas ke Ho Chi Minh maupun Hanoi, dan mampir ke lokasi perang, pandangan berubah.

Film perang Vietnam seperti The Deer Hunter, Apocalypse Now, Platoon, Coming Home, atau Tunnel Rats, saya kira lebih jujur dibanding Rambo-nya Sylvester Stallone atau Chuck Norris si Braddock di sekuel Missing in Action 1-3.

Bagaimana mau mengejar gerilyawan Vietcong? Mereka bersembunyi kayak tikus, seperti digambarkan dalam film Tunnel Rats atau Terowongan Tikus. Dalam perang berdurasi 18 tahun itu, Cak Rambo atau Cak Norris dkk sulit memburu lawan yang bertubuh lebih kecil. Mereka lincah keluar masuk terowongan sempit.

Saya sempat manjajal masuk ke Terowongan Cu Chi yang legendaris di Kota Ho Chi Minh. Masuk susah, di bawah tanah pun susah. Tak bisa berdiri tegak. Jalan mesti sambil membungkuk. Asal tahu saja, terowongan tikus itu mengular, bercabang-cabang sepanjang 120 km!

Bangun Mentalitas

Intinya, susah mengalahkan Vietnam. Di kancah sepak bola, rasanya begitu juga. Setidaknya, tim The Golden Star Warriors itu kini jadi yang terdepan di Asia Tenggara. Peringkat FIFA mereka 96. Negara-negara ASEAN lainnya di atas 100, termasuk Thailand (111), Filipina (134), Malaysia (145), Indonesia (151).

Sangat wajar jika Indonesia selalu diposisikan sebagai under dog tiap kali bertemu Vietnam. Apalagi rekor pertemuan sangat timpang. Dalam statistik pertandingan pun, ball possession selalu pincang. Dominasi tim polesan Park Hang-seo sering unggul hingga 70 persen lebih, membuat pemain Indonesia tampil inferior.

Beruntung pelatih Shin Tae-yong berhasil membangun mentalitas bertanding, tentu dilandasi perbaikan taktik dan teknik. Marselino Ferdinan dkk kini berani menyerang, perang terbuka melawan mereka.

Tapi jauh sebelum itu, sesungguhnya timnas Indonesia pernah membuat Vietnam terkejut. Pada 11 Desember 2004, juga di Stadion My Dinh, yang nanti malam dipakai laga semifinal leg II Piala AFF 2022, Indonesia pernah membantai Vietnam 3-0!

Malam itu suporter tuan rumah sangat antusias. Saat laga dimulai pukul 19.30 WIB, duet striker Le Hyun Duc (kapten tim) dengan Le Chong Vinh, diyakini bakal pesta gol ke gawang Hendro Kartiko.

Nyatanya? Stoper Mauly Lessy mencetak gol pada menit 18. Lalu duet Boaz Solossa dan Ilham Jaya Kesuma memberondong gawang Vietnam pada menit 21 dan 45. Tertinggal 0-3, pada babak kedua Vietnam bermain frontal. Mereka menyerang dari segala arah.

Hingga wasit Abdulhameed Ebrahim (Bahrain) meniup peluit panjang, skor tetap 3-0. Vietnam yang jadi tuan rumah fase grup bersama Malaysia, tersisih secara tragis. Wakil Grup A, Indonesia dan Singapura.

Banyak penonton menangis. Le Hyun Duc pun terkulai dengan air mata berurai. Kapten tim Indonesia, Charis Yulianto menghibur, tapi saya melihat “label puas” di seringai senyumnya.

Saat itu My Dinh Stadium di Hanoi jadi ladang pembantaian. Seperti film-film heroik Amerika, kita pun menanti ada sekuel pembantaian berikutnya di My Dinh. Biarlah Vietnam menang di Perang Indocina II. Tim Merah Putih menang di Piala AFF saja.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top