Membawa BBM Menembus Ombak ke Perbatasan Sebatik

KABARKALIMANTAN1, Tanjung Selor – Kapal tongkang minyak Cahaya Nunukan Mandiri bersandar di dermaga Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara (Kaltara), pada Juli lalu. Kapal itu baru tiba setelah berlayar semalaman dari Tarakan.

Kapal berjenis self-propelled oil barge (SPOB) dengan panjang sekitar 30 meter tersebut merupakan salah satu kapal pengangkut bahan bakar minyak (BBM) milik Pertamina Patra Niaga.

“Kapal ini mengangkut BBM dari Tarakan tadi malam sekitar jam enam habis magrib. Sampai di Sebatik ini, pagi jam delapan,” kata kapten kapal, Armansyah (37).

Wajahnya masih terlihat lelah. Bersama lima rekan kerjanya, dia berlayar semalaman menerjang ombak Perairan Sebatik yang saat itu mencapai 2,5 meter. Guncangan kapal yang membawa Pertalite, Pertamax, dan biosolar itu membuat mereka mual dan pening.

Dalam sebulan, Cahaya Nunukan Mandiri empat kali mengangkut BBM dari Tarakan ke Sebatik, kawasan perbatasan Indonesia dengan Malaysia. Terkadang kapal itu juga membawa BBM ke Nunukan dan Pulau Bunyu.

Armansyah baru empat bulan membawa kapal tersebut. Bapak dari bayi berusia enam bulan itu mengaku sudah empat bulan belum bertemu keluarganya yang tinggal di Sulawesi. Ponsel menjadi satu-satunya alat pelepas rindu selama bertugas.

SPOB merupakan kapal pengangkut BBM yang memiliki mesin penggerak sendiri dan lebih fleksibel berlayar di perairan dangkal. Cahaya Nunukan Mandiri memiliki daya angkut maksimal 230 ton.

Selama berlayar, waktu mengemudikan kapal dibagi setiap tiga jam secara bergantian. Keenam awak memiliki peran sebagai nakhoda, juru mudi, teknisi, dan juru masak. Untuk mengurangi kejenuhan, mereka biasanya bermain ponsel atau memancing.

Setelah membongkar muatan BBM di dermaga PLBN Sebatik, awak kapal langsung membersihkan sisa tetesan minyak yang tercecer.

Mengantar BBM ke perbatasan

Nakhoda Cahaya Nunukan Mandiri, Basri (41), sudah 16 tahun bekerja di kapal pengangkut BBM. Istri dan ketiga anaknya tinggal di Nunukan.

Saat kapal bersandar di dermaga PLBN Sebatik, dia memasang selang pengalir BBM dari ruang pompa ke tiga mobil tangki.

“Butuh waktu 15 menit untuk mengisi BBM di tangki ini yang memiliki kapasitas 5.000 liter atau lima ton,” kata Basri sambil berdiri di atas mobil tangki dan menjaga posisi selang.

Setelah menyalurkan BBM di Sebatik, kapal melanjutkan perjalanan ke Nunukan dengan waktu tempuh sekitar enam jam. Proses pembongkaran muatan di sana memerlukan waktu empat sampai lima hari.

“Suka dukanya kerja di laut ya ombaklah yang kadang besar dan menjaga safety karena membawa BBM. Alhamdulillah, selama 16 tahun tidak ada masalah,” kata Basri.

“Saya senang bisa mengantarkan BBM ke masyarakat perbatasan yang membutuhkan BBM dari Pertamina.”

Jika tidak sedang bertugas, Basri biasanya memancing. Hasil tangkapannya dimasak dan disantap bersama awak kapal.

“Masakan lain yang saya suka selama berlayar dengan kapal ini, ayam palekko. Biasanya juru masak sediakan dua ekor ayam untuk kita berenam yang ada di kapal ini,” katanya.

BBM Indonesia lebih murah

BBM yang diangkut Cahaya Nunukan Mandiri didistribusikan ke sejumlah SPBU, salah satunya di Desa Aji Kuning, Kecamatan Sebatik Tengah.

Sebatik berbatasan darat dengan Tawau, Sabah, Malaysia. Barang kebutuhan pokok, termasuk elpiji dan BBM dari Malaysia, juga beredar di wilayah tersebut.

Ketua RT 01 Desa Aji Kuning, Amran (40), mengatakan harga BBM dari Malaysia lebih mahal dibandingkan BBM Indonesia.

“Harga BBM kita lebih murah daripada BBM dari Malaysia, pastilah kita cari yang murah,” kata Amran.

Menurut dia, Pertalite dihargai Rp10.000 per liter dan Pertamax Rp17.000 per liter. Sementara BBM dari Malaysia mencapai Rp23.000 per botol berukuran 800 mililiter.

Amran memaklumi jika BBM lokal kosong selama beberapa hari karena jarak pengiriman yang jauh. Namun, dia mengatakan saat ini BBM Pertamina mudah didapat karena distribusi berjalan lancar.

Risalman, warga Desa Aji Kuning, mengatakan satu liter Pertamax atau Pertalite dapat digunakan untuk pergi-pulang ke kebunnya selama empat hari.

Namun, ketika stok BBM di Sebatik kosong, kondisi itu bisa berlangsung hingga dua pekan. Dia terpaksa membeli BBM dari Malaysia yang dijual secara ilegal dalam botol.

“Kalau pangkalan Pertamina tutup, maka tidak ada BBM beberapa hari, terpaksa untuk kebutuhan sehari-hari kita beli BBM dari sebelah (Malaysia) dengan harga yang mahal,” katanya.

Di Bukit Aru Indah, Kecamatan Sebatik Timur, Sahar (52) mengatakan BBM relatif mudah didapat, tetapi kuotanya perlu ditambah.

Dia biasa membeli BBM di Agen Premium dan Minyak Solar (APMS) Pertamina karena wilayah tersebut termasuk daerah terpencil. Menurut dia, kekosongan BBM kadang berlangsung hingga satu pekan. Cuaca menjadi salah satu faktor yang memengaruhi distribusi dari Tarakan ke Sebatik karena pengangkutan melalui kapal menjadi satu-satunya pilihan.

“Menurut pengamatan kami, BBM di SPBU dan APMS di Sebatik perlu ditambah oleh pihak Pertamina,” kata Sahar.

Distribusi harus dikawal

Ketua Panitia Urusan Rumah Tangga (PURT) Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI asal Kalimantan Utara, Hasan Basri, mengatakan lambatnya distribusi BBM berkaitan dengan cakupan geografis yang luas. BBM dibawa dari kilang Pertamina di Balikpapan ke Tarakan, kemudian didistribusikan ke wilayah lain, termasuk Sebatik.

Sebelum BBM di daerah perbatasan habis, menurut Hasan, kapal pengangkut lain idealnya sudah diberangkatkan.

“Ini tidak boleh terjadi terus menerus dan harus ada antisipasi sebelumnya, baik dari pengusaha BBM maupun kementerian terkait dalam hal ini ESDM, agar melakukan kontrol dan evaluasi,” katanya.

Hasan mengaku telah berkoordinasi dengan Pertamina Patra Niaga di Tarakan. Menurut dia, kuota BBM di Kaltara sudah dilebihkan 10 persen sehingga seharusnya tidak terjadi kekurangan.

“Artinya, ada sesuatu di lapangan yang harus kita tindak lanjuti. Saya menyampaikan agar aparat penegak hukum dapat menyelidiki kenapa ini terjadi,” katanya.

Sales Branch Manager Kalimantan Timur dan Utara (Kaltimut) V Fuel PT Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Nabilla Inanbarika Hartyana, mengatakan pihaknya mengantisipasi peningkatan kebutuhan dengan memantau stok harian dan antrean di SPBU serta memastikan ketersediaan kapal pengangkut.

Area Manager Communication, Relations & CSR Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan, Edi Mangun, mengatakan Pertamina telah menambah pasokan BBM sebesar 10 persen untuk daerah perbatasan di Kaltara karena adanya tren peningkatan kebutuhan.

“Kalau kita bicara soal kebutuhan normal, sebenarnya secara hitung-hitungan sudah bisa memenuhi, tapi tentunya kita juga tidak menyangkal bahwa ada pihak-pihak yang kemudian menyalahgunakan,” kata Edi.

Untuk mencegah kecurangan akibat perbedaan harga BBM Indonesia dan Malaysia, masyarakat diwajibkan membawa KTP ketika membeli BBM.

“BBM di perbatasan itu penting, karena bukan sekadar untuk menyalakan kompor, tetapi hadirnya BBM dan elpiji subsidi juga dalam rangka menjaga nasionalisme saudara-saudara kita sebagai bagian dari integrasi warga negara Republik Indonesia,” kata Edi.

 

 

Sumber : ANTARA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *