KABARKALIMANTAN1, Palangka Raya — Ketua DPRD Kota Palangka Raya, Subandi, berharap Musyawarah Komisariat Wilayah (Muskomwil) V Apeksi Regional Kalimantan tidak hanya menjadi agenda rutin, tetapi benar-benar melahirkan gagasan strategis yang bisa memperkuat posisi daerah.
Menurutnya, Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (Apeksi) merupakan ruang penting bagi pemerintah kota di seluruh Indonesia untuk menyuarakan kebutuhan fiskal dan kebijakan yang berdampak langsung terhadap pelayanan publik.
“Muskomwil jangan hanya bersifat seremonial. Harus ada strategi konkret, terutama menghadapi penurunan Transfer ke Daerah (TKD),” ujarnya, Senin (29/9/2025)
Subandi menilai masih banyak kebijakan pusat yang belum sepenuhnya selaras dengan kondisi daerah. Karena itu, ia mendorong Apeksi berperan sebagai wadah resmi untuk memperkuat posisi tawar daerah, khususnya kota-kota di Kalimantan.
Ia juga menegaskan bahwa setiap keputusan dan rekomendasi dari Muskomwil harus ditindaklanjuti secara nyata, baik melalui upaya lobi antarwilayah maupun penyampaian rekomendasi yang solid kepada pemerintah pusat.
“DPRD ingin memastikan setiap gagasan yang muncul bisa diwujudkan menjadi langkah konkret, bukan hanya wacana,” katanya.
Menurutnya, kerja sama lintas kota menjadi kunci memperjuangkan isu TKD maupun agenda besar lainnya. Dengan bersatu, posisi Kalimantan dalam kebijakan nasional dinilai akan jauh lebih kuat.
Selain persoalan fiskal, Subandi berharap Muskomwil V juga membahas isu strategis seperti pemerataan infrastruktur, penguatan pelayanan dasar, dan kesiapan daerah menghadapi pemindahan Ibu Kota Negara (IKN).
“Kami ingin rekomendasi Muskomwil benar-benar jelas dan bisa diperjuangkan bersama, sehingga dampaknya langsung dirasakan masyarakat,” tegasnya.
Subandi menutup pernyataannya dengan menegaskan bahwa Apeksi harus menjadi momentum penyelarasan sikap seluruh pemerintah kota di Kalimantan, bukan sekadar forum berkumpul.
“Bagi DPRD, Apeksi adalah wadah penting untuk memperjuangkan kebutuhan daerah secara kolektif. Jangan sampai terjebak menjadi seremoni belaka,” demikian Subandi.




