Karhutla Yang Terjadi Di Singkawang Mencapai 119,37 Hektare

KABARKALIMANTAN1, Singkawang – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Singkawang, Kalimantan Barat (Kalbar), mencapai 119,37 hektare, dengan luasan terbesar berada di Kecamatan Singkawang Selatan, sepanjang Agustus hingga September 2026.

Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan, dari total luasan tersebut, 72,47 hektare berada di Singkawang Selatan, 30 hektare di Singkawang Utara dan 16,9 hektare di Singkawang Timur.

“Secara keseluruhan total luasan karhutla yang terjadi di Kota Singkawang mencapai 119,37 hektare,” kata Tjhai Chui Mie di Singkawang, Jumat (2/10/2026).

Menurut dia, Pemkot Singkawang memperkuat penanganan karhutla sejak menetapkan status siaga darurat pada 24 Agustus 2026 sekaligus membentuk satuan tugas penanganan karhutla.

Ruang Telematics Control Management (TCM) Kantor Wali Kota Singkawang dijadikan Posko Terpadu Karhutla untuk mengonsolidasikan informasi dan penanganan di lapangan. Penanganan juga didukung posko karhutla di lima kecamatan.

Pemerintah kota turut mengoperasikan layanan Call Center 112 selama 24 jam untuk mempercepat penerimaan laporan masyarakat dan pengerahan personel ke lokasi kebakaran.

“Laporan masyarakat menjadi pintu awal untuk mempercepat pengerahan personel dan penanganan di lapangan. Kekuatan penanganan digerakkan secara bersama,” ujarnya.

Penanganan melibatkan berbagai unsur, mulai dari TNI, Polri, BPBD, Manggala Agni, Damkar Satpol PP, BPKS, Masyarakat Peduli Api (MPA), pemerintah kecamatan dan kelurahan hingga masyarakat.

Salah satu penanganan dengan tingkat kesulitan tinggi terjadi saat karhutla melanda kawasan akses menuju Bandara Singkawang pada 25 Agustus. Sedikitnya 12 titik panas teridentifikasi di kawasan tersebut dan petugas harus berjalan sekitar dua kilometer menuju titik api karena keterbatasan akses. Kondisi itu diantisipasi dengan memanfaatkan saluran air darurat yang membantu proses pemadaman.

“Kondisi air yang melimpah melalui sejumlah parit darurat yang dibuat Pemkot Singkawang sangat mempermudah proses pemadaman api,” katanya.

Selain penanganan langsung di lapangan, Pemkot Singkawang memperkuat pemantauan titik panas melalui FireHotspot Versi 2 yang dikembangkan tim programmer Diskominfo Kota Singkawang berbasis data satelit.

“Kehadiran FireHotspot Versi 2 diharapkan dapat menjadi alat bantu yang efektif bagi seluruh unsur tim tanggap karhutla dalam melakukan pemantauan dan pengambilan keputusan,” ujarnya.

Penanganan karhutla juga mencakup perlindungan masyarakat ketika kualitas udara menurun. Pemkot Singkawang membagikan 3.300 masker kepada masyarakat di sejumlah ruang publik pada 26 Agustus 2026.

Ia menambahkan, dinas Lingkungan Hidup secara berkala memantau kualitas udara sebagai salah satu dasar pemerintah menentukan langkah perlindungan masyarakat, termasuk penyesuaian kebijakan di sektor pendidikan.

Dinas Pendidikan dan Kebudayaan menyesuaikan pola pembelajaran berdasarkan kondisi kualitas udara, mulai dari pembelajaran daring, pembelajaran terbatas hingga kembali ke pembelajaran tatap muka.

“Evaluasi dilakukan secara berkala mengikuti perkembangan kondisi udara,” kata Tjhai Chui Mie.

Di sektor kesehatan, fasilitas pelayanan kesehatan milik pemerintah turut memantau kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Pada periode 24 Agustus hingga 7 September 2026 tercatat adanya kasus ISPA.

Dia menegaskan, data tersebut merupakan bagian dari pemantauan kesehatan masyarakat dan tidak serta-merta menunjukkan seluruh kasus disebabkan oleh karhutla.

 

 

Sumber : ANTARA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *