Kalsel Kembangkan Penelitian Tumbuhan Obat Khas Kalimantan

KABARKALIMANTAN1, Banjarbaru – UPTD Kebun Raya Banua Provinsi Kalimantan Selatan (Kalsel) mengembangkan penelitian tumbuhan berkhasiat obat khas Kalimantan guna melestarikan pengetahuan lokal masyarakat sekaligus mengoptimalkan potensi sumber daya hayati daerah sebagai bahan baku obat berbasis tanaman lokal.

Kepala Seksi Penelitian dan Konservasi Tumbuhan Exsitu UPTD Kebun Raya Banua Kalsel Muhammad Ferza Listyannoor di Banjarbaru, Kamis (14/5/2026), mengatakan kegiatan eksplorasi tumbuhan di Kabupaten Tanah Bumbu beberapa waktu lalu menjadi bagian dari pengembangan penelitian tumbuhan berkhasiat obat khas Kalimantan.

“Penelitian itu sekaligus mendukung upaya konservasi tanaman lokal. Eksplorasi ini menjadi bagian penting dalam mendukung fungsi riset di Kebun Raya Banua, tanaman yang ditemukan nantinya akan dikembangkan dan dikaji lebih lanjut sesuai potensi masing-masing,” ujarnya.

Ia menjelaskan eksplorasi lapangan menjadi tahapan penting untuk mengidentifikasi berbagai jenis tumbuhan lokal yang berpotensi dikembangkan sebagai tanaman obat maupun sumber bahan baku produk herbal khas Kalimantan Selatan pada masa mendatang.

Sementara itu, Peneliti Kebun Raya Banua Noor Laily Aziza menjelaskan Kebun Raya Banua memiliki fokus pengembangan pada tumbuhan obat dan tumbuhan berkhasiat obat khas Kalimantan yang selama ini banyak dimanfaatkan masyarakat secara tradisional.

Menurut dia, kajian yang dilakukan saat ini diarahkan untuk melakukan skrining terhadap berbagai jenis tumbuhan lokal guna mengetahui kandungan senyawa aktif yang berpotensi dimanfaatkan dalam pengembangan bahan baku obat alami.

“Kami berupaya menskrining tumbuhan-tumbuhan yang memiliki potensi sebagai sumber obat. Harapannya ke depan Kalimantan dapat memiliki bahan baku obat yang berasal dari tumbuhan lokal sendiri,” katanya.

Noor Laily menekankan pengembangan riset tersebut mengedepankan pengetahuan lokal masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun, terutama informasi mengenai manfaat tanaman obat yang diperoleh langsung dari masyarakat saat kegiatan eksplorasi berlangsung.

“Kami banyak belajar dari masyarakat, baik suku Dayak, Banjar maupun suku lainnya. Mereka memiliki pengetahuan tentang fungsi tanaman tertentu sebagai obat tradisional, kemudian kami identifikasi dan teliti secara ilmiah,” tuturnya.

Ia menilai kajian tersebut menjadi jembatan antara pengetahuan lokal masyarakat dengan pengembangan ilmu pengetahuan modern karena sejumlah tanaman yang dipercaya memiliki khasiat tertentu terbukti mengandung senyawa aktif berdasarkan hasil penelitian ilmiah.

Salah satu tanaman yang diteliti yakni pohon Ulin yang secara tradisional dimanfaatkan masyarakat sebagai minyak rambut dan dipercaya mampu menghambat munculnya uban pada rambut.

“Ternyata setelah diteliti memang ada senyawa tertentu pada ulin yang berpotensi menghambat pembentukan uban. Jadi pengetahuan lokal yang diwariskan masyarakat itu memiliki dasar ilmiah,” ungkap dia.

Selain melaksanakan penelitian internal, Kebun Raya Banua juga membuka kesempatan bagi peneliti perguruan tinggi maupun lembaga penelitian lainnya untuk melakukan riset, pengambilan sampel, hingga pengembangan kajian ilmiah di kawasan kebun raya tersebut.

Ia berharap ke depan Kebun Raya Banua tidak hanya menjadi pusat konservasi tumbuhan khas Kalimantan, tetapi juga mampu menghasilkan produk berbasis tanaman lokal sekaligus menjaga keberlangsungan pengetahuan tradisional masyarakat mengenai manfaat tumbuhan obat.

“Pengetahuan lokal itu adalah harta karun Kalimantan Selatan. Jadi yang ingin kita selamatkan bukan hanya tanamannya, tetapi juga pengetahuan masyarakat tentang manfaat tumbuhan tersebut,” ujar Noor Laily.

 

 

Sumber : ANTARA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *