KABARKALIMANTAN1, Samarinda – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Kalimantan Timur mengembangkan sarana satuan pendidikan dan asrama siswa di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) yang ditargetkan tuntas hingga tahun 2027.
“Pemerintah menargetkan penyelesaian seluruh fasilitas fisik ini tuntas tepat waktu agar pada 2028 kita beralih sepenuhnya untuk meningkatkan kualitas lulusan,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Disdikbud Kaltim Armin di Samarinda, Minggu (12/4/2026).
Disampaikan dia, langkah tersebut diprioritaskan untuk memperkuat daya tampung di wilayah seperti Balikpapan agar sekolah negeri dapat meningkatkan serapan siswa setempat yang saat ini berada di angka 48 persen.
Pada kota tersebut, pemerintah tengah merampungkan gedung baru SMKN 7 Balikpapan, pembangunan SMAN 10 dan SMKN 8, serta penambahan ruang kelas pada SMAN 7 dan SMKN 5.
Perluasan akses sarana belajar juga menyasar kawasan lain meliputi Kabupaten Penajam Paser Utara, Paser, Berau, Kutai Kartanegara, hingga pendirian SMAN 2 Sangatta Selatan di Kutai Timur.
Dia menambahkan, fasilitas hunian tersebut ditujukan bagi siswa di area perkebunan atau yang harus menyeberangi sungai, dan kini beroperasi di Long Apari, Long Pahangai, serta Long Bagun.
“Pengelolaan asrama ini dibimbing langsung oleh tenaga kependidikan atau guru yang belum berkeluarga demi memastikan pendampingan optimal bagi peserta didik,” katanya.
Selain infrastruktur dasar sekolah, Pemprov Kaltim juga mengembangkan program Garuda Transformasi dengan menyiapkan minimal satu sekolah unggulan berstandar internasional di setiap kabupaten dan kota.
SMA Negeri 10 Samarinda menjadi pionir tersebut yang terbukti pada tahun ini sebanyak 32 siswa telah diterima di kampus berskala global.
Armin menegaskan bahwa kualitas sarana pendidikan di wilayah 3T saat ini sudah mulai menyamai fasilitas yang tersedia di kawasan perkotaan.
“Upaya pemerataan standar fasilitas ini bertujuan untuk menghapus ketimpangan antarwilayah sesuai prinsip pendidikan inklusif,” katanya.
Sumber : ANTARA



