Eksklusif

Agum Gumelar: Idealnya Liga Boleh Dihadiri Penonton

KABAR KALIMANTAN 1, Jakarta – Mantan Ketua Umum PSSI, Jenderal TNI (Purn) Agum Gumelar menegaskan, kompetisi adalah jantungnya pembinaan, dan idealnya penonton bisa hadir di stadion.

Hal tersebut disampaikan mantan tokoh yang pernah menjabat sebagai Menteri Perhubungan, Menteri Pertahanan, juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden era Joko Widodo ini.

Selengkapnya, berikut pandangan Agum terhadap sepakbola di masa pandemi, dalam wawancara dengan Pemimpin Redaksi Kabar Kalimantan 1, Sigit Nugroho, di sela Trofeo HUT TNI di Stadion PTIK, Jakarta Selatan, Minggu (24/10/2021).

Agum Gumelar (kiri) dan Sigit Nugroho, kontribusi untuk sepakbola.

Sigit: Selamat atas anugerah “IFF Award” yang diberikan atas kontribusi selaku anggota TNI, di jalur sepakbola. Bagaimana Anda menyikapi hal ini?

Agum: Tentu saya mengucapkan terima kasih, sebab masih dipandang sebagai orang yang ikut berjasa dalam memajukan sepakbola Tanah Air. Namun tokoh dari kalangan TNI dan Polri yang punya kontribusi di sepakbola, tentu bukan saya saja. Masih banyak yang lain.

Tapi bukankah Bapak punya kontribusi khusus, terutama saat ditunjuk FIFA sebagai Ketua Komite Normalisasi saat terjadi dualisme dalam sepakbola kita? 

Oh ya,  saat itu terjadi dualisme, baik dalam federasi (PSSI-Red) maupun liga, yakni antara IPL vs ISL. Itu salah satu masalah terbesar yang dihadapi sepakbola Indonesia. Pertentangannya sangat tajam, dan berpotensi menimbulkan perpecahan. Saat itu saya mengedepankan prinsip persatuan dan kesatuan bangsa. Karena ranahnya sepakbola, tentu juga harus memakai aturan standar FIFA. Tidak mudah, tapi Alhamdulullah bisa diselesaikan dengan baik. Bukan karena saya saja, tapi juga berkat kebesaran jiwa para pihak yang berseru.

Seperti dialami negara lain, saat ini sepakbola kita sedang menghadapi masalah pandemi Covid-19. Setelah sempat vakum, kini liga bisa digelar, tapi tanpa penonton. Komentar Anda? 

Kita semua merasa prihatin, tapi tetap harus mematuhi aturan prokes sesuai arahan pemerintah. Langkah-langkah yang dilalui sudah benar. Dihentikan, lalu digelar dengan prokes ketat dan tanpa penonton. Kompetisi memang harus jalan, karena kompetisi adalah jantungnya pembinaan.

Di banyak negara Asia, apalagi Eropa, kompetisi sudah boleh dihadiri penonton. Kenapa di Indonesia hal itu baru akan dikaji, meski prokes sudah diterapkan, yaitu vaksin komplit dan harga tiket selangit? 

Bisa jadi pemerintah masih berhati-hati terhadap potensi penyebaran Covid-19, apalagi katanya ada varian baru. Namun jika vaksinasi sudah komplit, dan aturan prokes seperti jaga jarak sudah pula diterapkan, saya rasa penonton boleh masuk stadion. Begitu idealnya sebuah pertandingan, apalagi sepakbola sudah jadi bisnis. Tanpa penonton, sponsor, dan stakeholder lain, bisnis di sepakbola takkan jalan.

Bagaimana kinerja PSSI era sekarang di bawah kendali jenderal polisi, Pak Mohamad Iriawan? 

Secara keseluruhan saya mengapresiasi kinerja PSSI. Sejauh ini PSSI sudah bekerja untuk membangkitkan sepakbola di tengah pandemi Covid-19. Karena itu saya mengajak seluruh pelaku sepakbola mendukung PSSI. Pasti ada kekurangan, tapi jangan diumbar, cukup beri support dan doakan.

Tentang Trofeo U-50 HUT TNI hasil kerjasama IFF dan Asabri, apa harapan Anda? 

Saya sangat mengapresiasi kegiatan ini karena bisa mempertemukan mantan-mantan pemain nasional atau tokoh-tokoh yang berjasa memajukan sepakbola Indonesia. Saya lihat ada Herry Kiswanto, Patar Tambunan dll., mereka dulu main di timnas era saya di PSSI.

Trofeo bagus, bisa menciptakan kegairahan untuk berolahraga dan bersepakbola. Saya dulu juga begitu. Kalau sedang stres karena suatu hal, cukup main bola atau sekadar membicarakan soal bola, ketegangan bisa reda, bahkan hilang. Ha ha ha.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Most Popular

To Top